Tentang Waktu Yang Berlalu, Untuk Apa Kita Pergunakan…?

Tentang Waktu Yang Berlalu, Untuk Apa Kita Pergunakan…?
Oleh Muhaimin Iqbal
Kamis, 08 December 2011 06:57

Dahulu di pekerjaan saya yang lama, saya banyak sekali kenal, berhubungan dan bekerjasama dengan sejumlah besar eksekutif perusahaan dari berbagai jenis industry. Karena usia mereka yang rata-rata lebih tua, saya menyaksikan satu demi satu mereka pensiun. Bila ditanya hendak melakukan apa mereka setelah pensiun, jawaban yang paling umum adalah pingin bertani, beternak, memelihara ikan, berkebun, pindah ke kota kecil dan sejenisnya.

Mengapa saya ambil contoh cita-cita tersebut adalah cita-cita para eksekutif ?, karena bila Anda masih berstatus karyawan di awal karir – kemungkinan besarnya cita-cita Anda ingin berkarir sampai puncak dan menjadi eksekutif di perusahaan atau instansi tempat Anda bekerja !. Justru setelah sampai puncak cita-cita Anda, Anda akan kembali memiliki cita-cita yang lebih sederhana.

Cita-cita sederhana ingin menjadi petani, nelayan dan sejenisnya tersebut ternyata bukan hanya milik para eksekutif di negeri kepulauan yang agraris ini, di dunia kapitalisme barat – cita-cita sederhana tersebut rupanya juga umum di kalangan para eksekutif dan bahkan entrepreneur-nya. Berikut saya share cerita popular yang saya bawa dari dunia saya yang lama.

Suatu saat seorang top executive di public company sedang berlibur di pulau kecil yang pekerjaan satu-satunya penduduk disitu adalah sebagai nelayan. Ketika dia lagi berada di dermaga, dia melihat seorang nelayan yang datang berlabuh dengan sekeranjang ikan.

Dia datangi nelayan tersebut dan bertanya : “Berapa lama Anda menangkap sekeranjang ikan ini ?” nelayan tersebut menjawab : “cuma sebentar saja saya melaut, menangkap ikan dan setelah keranjang ini penuh saya pulang…”.

Penasaran si eksekutif ini bertanya lagi : “Lantas apa yang engkau lakukan dengan sisa waktumu ?” si nelayan menjawab : “sebentar saya akan menjual sebagian besar ikan ini untuk keperluan saya yang lain, sebagian saya konsumsi bersama keluarga…”.

Si eksekutif mulai berhitung, betapa waste-nya waktu si nelayan ini. Sebentar menangkap ikan, sebentar pula menjualnya. Lantas dia bertanya lagi : “terus setelah itu apa yang akan engkau lakukan ?” si nelayan menjawab “saya pulang ke rumah bersenang-senang bersama istri dan anak –anak sampai larut …dan besuk mulai lagi mencari ikan sebentar , menjualnya sebentar…bersenang-senang lagi sampai larut…”.

Si eksekutif yang MBA dari sekolah bisnis top dunia ini mulai sok tahu ingin mengajari si nelayan mengoptimalkan waktu, dia bicara : “mengapa engkau tidak membawa keranjang yang banyak, menangkap ikan lebih lama untuk memenuhi keranjang-keranjang tersebut, kemudian menjualnya juga lebih lama sampai seluruh ikan yang tidak engkau konsumsi terjual semua…”.

Si nelayan yang tidak pernah berpikir sejauh itu, merasa kaget dengan saran si eksekutif yang dari raut mukanya tampak seperti orang kota yang pinter, dia pikir benar juga ya saran orang ini. Dengan penasaran dia ingin diperjelas : “lantas setelah itu apa ?”. Si eksekutif melanjutkan “Setelah engkau punya uang banyak, engkau bisa membeli kapal yang besar untuk menangkap ikan”. Tambah penasaran si nelayan : “setelah itu apa lagi …?”, si eksekutif yang merasa nasihatnya di dengar kini menjadi antusias untuk memberi nasihat yang komplit ke nelayan yang lugu ini.

“dari kapal yang besar ini, engkau akan memiliki uang yang semakin banyak. Setelah itu engkau akan bisa membeli kapal lain yang lebih besar lagi, uang semakin banyak lagi, membeli kapal lagi dan seterusnya. Setelah kapal dan uangmu sangat banyak, engkau bisa mendirikan perusahaan dan perusahaan ini engkau jual ke publik – dari penjualan ini engkau akan memiliki uang yang sangat-sangat banyak saat itu”.

Seolah mudah, si nelayan bertanya lagi ke si eksekutif : “berapa lama waktu yang saya perlukan untuk itu ?” si eksekutif yang sangat berpengalaman ini menjawab berdasarkan pengalamannya : “yah sekitar 15 – 20 tahun”.

Si nelayan yang tidak pernah membayangkan butuh uang yang sangat sangat banyak masih penasaran meskipun dia mulai ragu, dia bertanya lagi : “setelah itu apa yang saya lakukan ?”. Kini ganti si eksekutif yang kaget dengan pertanyaan ini, dia bingung juga untuk apa ya si nelayan punya uang yang sangat-sangat banyak, dalam keraguannya dia menjawab : “Setelah uangmu sangat-sangat banyak, engkau bisa hidup santai dan bersenang-senang dengan keluargamu sampai larut”.

Si nelayan yang sudah sempat terpengaruh oleh nasihat si eksekutif, kini sadar bahwa nasihat tersebut ternyata tidak cukup menarik untuk dia, setengah menyesal telah dengan antusias mendengarkan panjang lebar nasihat si seksutif, nelayan tersebut berkata : “yee, kalau begitu mengapa saya harus cape-cape bekerja keras mencari uang yang sangat-sangat banyak 15-20 tahun, bila hanya untuk bisa bersenang-senang sampai larut dengan anak dan istri saya – saat inipun saya sudah bisa bersenang-senang dengan anak istri saya sampai larut. Kalau saya harus menunggu 15-20 tahun untuk tujuan yang sama tersebut – apa menariknya ?, lagi pula saat itu istri saya sudah tua, anak-anak saya mungkin sudah pada pergi dengan keluarganya masing-masing…”.

Si eksekutif tersadar, bahwa apa yang disampaikan nelayan tersebut adalah benar adanya. Dan itulah yang tepatnya terjadi pada dia, dalam hatinya dia bicara : “saya bekerja keras 15-20 tahun sampai eksekutif puncak, saat inipun punya uang yang banyak, tetapi ketika saya ingin menikmatinya dengan berlibur di pulau kecil ini, tidak ada satu-pun anak-anak saya yang bisa menemaninya karena sudah sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri, istriku-pun sudah terlalu tua untuk aku ajak jalan sampai dermaga ini…”.

Dalam hidup, kebanyakan kita adalah salah satu dari dua orang tersebut diatas. Seperti si eksekutif yang bekerja keras, mencari uang yang banyak – tetapi setelah itupun uang itu tidak ada gunanya karena dia sudah tidak bisa menikmatinya lagi ketika uang terkumpul. Atau sebaliknya seperti si nelayan, yang bekerja secukupnya setelah itu hanya bersenang-senang yang banyak.

Si eksekutif maupun si nelayan keduanya adalah orang yang tertipu dengan waktu, usia dan hartanya. Keduanya bukan contoh yang baik untuk kita, kita diberi waktu, diberi usia, diberi harta semuanya untuk dipertanggung jawabkan. Kita akan ditanya untuk ini, untuk apa waktu kita, usia kita dan harta kita. Dapatkah kelak kita menjawabnya dengan PD ? semoga kita bisa !. Amin.
source: http://goo.gl/ExUxz

Postingan Terkait Lainnya :


Diskusi Bisnis Online via Facebook Comment

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>